Literasi Media: Definisi Menurut Para Ahli dan Sejarah Perkembangannya di Indonesia


Purwokerto  - Pernahkah kamu mendengar istilah literasi media? Mungkin terdengar familiar, sebab kita kerap mendengar diksi ‘literasi’ yang sering dikampanyekan oleh stake holder di dunia pendidikan. Lalu apakah sebetulnya literasi media itu? Mari kita simak penjelasan menurut para ahli.

Definisi menurut para ahli

Menurut Potter (2005: 22 ) literasi media adalah seperangkat perspektif bahwa kita secara aktif mengekspos diri sendiri terhadap media untuk menafsirkan makna dari peran-peran yang kita hadapi. Kita membangun perspektif kita dari struktur-struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan, kita memerlukan alat-alat dan bahan baku. Alat-alat ini merupakan skill kita. Bahan bakunya adalah informasi dari media dan dunia nyata. Menggunakan secara aktif berarti kita sadar terhadap pesan-pesan dan interaksi secara sadar dengan pesan-pesan ini. 

Dengan kata lain, literasi media merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media. Berhubungan dengan bagaimana khalayak dapat mengambil kontrol atas media, skill untuk menilai arti di setiap detail beragam bentuk pesan, mengelola arti tersebut sampai bermanfaat, lalu membangun pesan untuk disampaikan kepada orang lain.

Sementara itu, Art Silverblatt menegaskan definisi literasi media pada beberapa point, yakni: 

-awarness tentang dampak media kepada individu dan society, 

- kesadaran bahwa isi media merupakan teks yang merepresentasikan culture, serta diri kita sendiri pada era sekarang, 

-pemahaman akan proses komunikasi massa

-pengembangan kesenangan, pemahaman, dan penghargaan terhadap isi media. 

- pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media.

Lima point tersebut, kemudian ditambahkan oleh Baran dengan pemahaman akan etika dan kewajiban moral dari praktisi media, serta pengembangan skill produksi yang tepat dan efektif. 

Di balik media masa yang disimak dan diikuti oleh publik, terdapat produser yang mengkonstruksikan isi media. Ia menjadi semaunya menggiring isu, menyuntikan gagasan, serta menyuarakan kepentingannya. Di sini lah pentingnya kesadaran berliterasi media yang baik, kita jadi mampu untuk memilah, mengunyah, bahkan menghendle arah media itu sendiri, dengan cara dapat mengatur penggunaan media yang baik, menseleksi konsumsi sumber media yang memiliki kredibilitas dan integritas, serta lihai dalam memobilisasi media dan menginterpretasikannya. 

Sejarah Perkembangan Literasi Media di Indonesia

Sejak era 1990-an, para pemangku kepentingan di Lembaga Swadaya Masyarakat pemerhati perlindungan anak, perguruan tinggi, dan kelompok mahasiswa-, pemuka agama, dan orang tua telah resah dengan tumbuh kembang generasi pada saat itu. Mereka memusatkan perhatian untuk melindungi bibit unggul bangsa dari pengaruh media, khususnya Televisi. 

Beberapa penggagas yang komitmen dalam gerakan literasi media tersebut antara lain, YPMA ( Yayasan Pengembangan Media Anak ) yang bergerak lewat pendidikan dan kampanye literasi media, Rumah Sinema yang fokus pada literasi media untuk pelajar SMA, Remotivi yang berfokus pada riset dan studi media, ECCD-RC yang fokus pada pendidikan literasi untuk anak-anak paud, Pusat Kajian Media dan Budaya (PKMBP)  Yogyakarta dengan penelitian dan pendidikan literasi medianya, serta MPM (Masyarakat Peduli Media) 

Media yang kerap digunakan masyarakat Indonesia pada saat itu masih lah TV, radio, majalah, pemutar permainan elektronik, buku, dan pemutar vidio. Seiring dengan pertumbuhan zaman, dan modernisasi yang kian pesat, teknologi media yang menjadi sarana komunikasi yang semula berwujud media cetak, bertransformasi menjadi media elektronik, bahkan sampai media digital. 

Data menunjukan, pada tahun 2009 kepemilikan Televisi oleh masyarakat mencapai 98%, koneksi internet 28%,  telepon seluler 90 %, komputer 59%, pemutar VCD 80 %, pemutar permainan 62 % dan radio 74 %

Akses terhadap beragamnya bentuk-bentuk media, memungkinkan segenap manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya di berbagai penjuru dunia, tsunami informasi, dampak kecanduan dan kekhawatiran akan berkurangnya tingkat konsentrasi pada dunia nyata menjadi persoalan yang diperbincangkan terus menerus. 

Semenjak perubahan tersebut, anak-anak menjadi lebih sering menghabiskan waktunya 30-35 jam perminggu untuk tenggelam dalam media elektronik, melejitnya angka penetrasi media merubah pola dan kebiasaan masyarakat. 

Para pemuda yang belum cukup kritis dan kaget dengan hal itu, terpengaruh terhadap arah konten yang disediakan/ disiarkan. Kala itu, orang-orang khawatir dengan hilangnya minat remaja terhadap dunia pendidikan, hilangnya tumakninah dalam belajar.

Tayangan-tayangan yang dinikmati oleh khalayak masih rentan di telan mentah-mentah, TV sedemikian pragmatis menggencarkan strategi bisnisnya. Etika dan kepantasan semakin berubah seiring dengan habbit yang mulai beradaptasi. Waktu bermain semakin berkurang, bersosialisasi menjadi hal yang dilakukan tidak sesering sebelum-sebelumnya. 

Sebetulnya ada banyak sekali upaya yang dilakukan untuk mencegah dampak buruk dari media yang semakin pesat berkembang, ketika kita telah mengerti dan memahami bagaimana sisi lain dari media, menggali lebih dalam mengenai dampak positif media, maka kita akan menemukan hal-hal baik yang dapat memberikan kebermanfaatan untuk khalayak (*)


Komentar

Postingan Populer