Resensi Buku: The 48 Laws Of Power by Robert Greene


Purwokerto – Sinopsis buku ini memang terlihat cukup memikat dengan narasi-narasi yang provokatif. Apalagi dengan klaim best seller yang dilahirkan oleh seorang penulis ternama di New York Times. Robert Greene memiliki pengikut yang kuat di dunia bisnis dan pengikut yang mendalam di Washington DC. Buku-bukunya, kerap dipuji oleh semua orang mulai dari sejarawan perang hingga musisi terbesar di industri ini (termasuk Jay-Z dan 50 Cent )

Setiap kalimat dari buku tersebut menghanyutkan, dengan gaya penulisan yang singkat tapi mengena mambuat pembaca cukup lupa waktu untuk selalu membalik halaman demi halaman sampai khatam, selain itu diselingi cerita-cerita penuh perumpamaan di setiap steatment yang diungkapkan penulis sehingga terlihat cukup meyakinkan dan mudah dipahami. 

Bagi kalangan manusia yang memiliki segenap ambisi untuk kekuasan, buku ini sangat related untuk diselami, sebab di dalamnya mengandung hukum-hukum tak tertulis yang menyaring tiga ribu tahun sejarah kekuasaan menjadi 48 hukum yang menurut Robert relevan sepanjang zaman.

Namun, buku ini tidak direkomendasikan untuk manusia yang nalarnya belum matang, sehingga tidak punya kemampuan untuk menyeleksi setiap insight yang didapatkan melalui setiap bacaan. Robert menuliskan banyak sekali strategi yang terkadang cenderung manipulatif, penuh intrik, licik, serta menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi manusia. 

Mungkin bagi kalangan yang cukup menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bacaan ini kurang cukup manusiawi, destruktif, menimbulkan degradasi moral. Cara Robert bertutur mempengaruhi manusia untuk saling skeptis satu sama lain, saling memanfaatkan, saling mengendalikan, bahkan menjatuhkan. 

Pembaca juga disuguhkan taktik untuk mengenali kelemahan lawan bicara, mempermainkan bentuk emosional manusia, dan membuat orang lain bergantung. Menggiring pembaca untuk berpura-pura bodoh untuk menangkap orang bodoh, melarang untuk berkomitmen dengan siapapun, mempermainkan kebutuhan orang lain untuk menjadi pengikut yang setia, serta menjaga tangan tetap bersih dengan menggunakan orang lain sebagai pion serta tabir yang tidak sadar untuk menyamarkan keterlibatan. 

Sementara itu, bagi kita yang merasa punya perasaan  tulus dan kerap naif  dalam menghadapi realitas yang kompetitif, buku ini cukup membantu, paling tidak untuk mengenali jenis-jenis karakter manusia dengan segala karakternya. 

Boleh jadi, kita bisa berpikir bahwa, Robert hanya bisnis omong kosong belaka dengan pembenaran-pembenaran  mitos sejarah kekuasaan di masa lalu, atau cara berfikirnya hanya cocok bagi wilayah dengan kulture tertentu. Ya, selayaknya pembaca demotivator yang tak terlalu berselera baca self improvetment, bisa saja baginya Robert dianggap sedang melakukan pembodohan publik. 

Hukum-hukum  yang diterangkan olehnya seperti campuran pendapat dan interpretasi aneh dari cerita dan momen sejarah yang diprediksi tidak sesuai dengan kehidupan aslinya. Versinya mengenai sejarah Tudor misalnya, paling banter, sederhana paling buruk, fiksi mutlak. 

Juga pada sejarah kuno hingga modern Rusia, Eropa, Amerika, Inggris, dan Cina. Dia mengungkapkakn pernah membaca buku sejarah sekali dan memutar balikan setiap peristiwa yang dia bisa supaya mendukung gagasannya. Hal tersebut seperti membaca kisah sejarah yang dipetik langsung dari era Kekaisaran Ingris. 

Tidak ada kebenaran pasti dalam buku tersebut, jika kita amati sekali lagi, beberapa kutipan kalimat yang di samping buku sebagai pelengkap akan pembuktian hukumnya, Greene seperti menggunakan mitos dan dongeng anak-anak sebagai perumpamaan maksud tulisannya. 

Robert Greene terlalu memandang manusia sebagai pertempuran yang harus dimenangkan, dengan pemenang dan pecundang, dan disekeliling mereka terdapat musuh yang potensial untuk dikendalikan dan dimanfaatkan demi sebuah keutungan. 

Tapi yeah kembali lagi pada  bagaimana kita memaknai kekuasaan itu sendiri, apakah kekuasaan untuk mendominasi segenap manusia ataukah kekuasaan untuk memilih bagaimana cara kita untuk hidup dan menjalani kehidupan yang lebih mendamaikan. (*) 

Komentar

Postingan Populer