Sebuah Kenang-kenangan dari Semester Tujuh
Purwokerto - Semenjak covid, kebiasaan rebahan untuk meluncur ke dunia maya adalah hal yang tak terhindarkan. Sebab perkuliahan angkatan duaribu dua puluh dilakukan secara online. Sehingga tidak bisa dipungkiri, saya kerap selingkuh dari zoom meeting ke haribaan aplikasi lain di ponsel. Saya tidak pernah menduga, habbbit tersebut akan berdampak cukup berbahaya untuk beberapa masa ke depan.
Semua terasa baik-baik saja ketika menduduki semester tiga, sebab saya mulai menenggelamkan diri ke dunia organisasi secara ofline untuk pertama kali. Namun di sana lah permulaan dari kegaduhan keteraturan akademik, management waktu yang secara teori terasa easy ternyata pada implementasinya strugle bukan main.
Semester lima adalah puncak tercheos menghadapi kondisi tubuh yang kerap tipes karena jarang makan, asam lambung sebab terlalu banyak pikiran, pola tidur terbalik, dan hasrat untuk menghilang yang tak tertahankan.
Dari sana lah saya terkadang merasa bersalah pada senior kampus yang berumur empat belas semester sebab sesekali turut menghidupkan situasi meledek dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban yang tidak sederhana, yakni basa-basi ‘’Kapan lulus?’’
Menginjak semester enam, jangankan ditanya ‘’Kapan Lulus?’’ adiknya pertanyaan itu saja, saya kewalahan menina bobokannya. ‘’Udah ngajuin judul belum?’’ . ternyata adik dari pertanyaan itu punya adik tiri, yakni ‘’Kenapa belum KKN?’’ betapa sekarang saya baru memahami perasaan sentimentil yang mengandung demotivasi tersebut jika diajukan kepada pemangku kepentingan akademis yang butuh suport pemakluman.
Dalam hal ini, bukan berarti saya sungkan lulus cepat, tentu saja saya kepengin sekali. Tapi persoalannya, pertanyaan tersebut itu seperti seorang jomblo yang ditanya kapan nikah, seperti juga sepasang mandul yang ditanya kapan punya anak, atau seorang malang yang kecopetan untuk kemudian ditanya kenapa dompetnya belum dibalikin?
Nah dari sana udah nangkep belum poinnya?
Yang digaris bawahi adalah saya sedang mengupayakan semaksimal mungkin, hasilnya merupakan hal yang di luar dikotomi kendali, sudah diserahkan semua pada Sang Penulis Naskah Kehidupan. Kalo gak bisa mengapresiasi, ya minimal jangan menghakimi. Setiap orang punya timingnya masing-masing.
Saya turut mengapresiasi kepada segenap mahasiswa ambis yang mampu lulus cepat, sungguh proud of you, ini menandakan pribadimu yang ulet, telaten, rajin, dan selalu memprioritaskan akademik. Saya juga mengapresiasi segenap mahasiswa yang kuliah sambil kerja, kuliah sambil mondok, kuliah sambil ngurip-nguripi organisasi, kuliah sambil melawan kondisi kesehatannya yang kurang stabil, kuliah sambil berumah tangga, momong anak, dan seterusnya.
Kita tidak pernah tau proses seperti apa yang dilalui oleh beragamnya manusia, kita tidak pernah tau cobaan seperti apa yang dialaminya, kita tidak pernah tau seberapa terjal jalannya menempuh impian, don’t judge a book by its the cover, setiap perilaku punya alasan.
Pada intinya, setiap orang berhak memilih jalan ninjanya masing-masing. Naruto saja, yang masih genin, selalu tertinggal dengan teman-temannya, dianggap lemah, bodoh, dengan segala kerja kerasnya, ia tak menyerah, dan hanya soal waktu, Naruto bisa menjadi Hokage ke tujuh. Pahlawan perang dunia ninja pada eranya, kita tidak akan pernah bisa menganalisis plot wist masa depan.
Ok, listen. I know it hurt somethimes. But you’ll get over it, you’ll find another life to live, i know you’ll ger over it!



Komentar
Posting Komentar