Kita Tidak Bodoh, Hanya Tidak Disiplin Saja
sebuah catatan post power syndrom |
Purwokerto - Walaupun saat ini, saya merupakan mahasiswa semester sembilan yang tertinggal dalam banyak hal, gini-gini saya pernah ranking satu berturut-turut sepanjang Sekolah Menengah Pertama.
Kalimat tersebut mungkin terdengar songong, tapi begitu lah cara saya untuk memerangi rasa insecure yang kerap melanda, apalagi di jam-jam malam ketika insomnia.
Saya sengaja menghilang dari wa, bukan tanpa alasan. Kesepian memang, tapi paling tidak, saya jadi tidak terlalu memukul diri sendiri untuk membanding-bandingkan dengan proses orang lain.
Selama masa menghilang tersebut, saya hanya berdiam diri di kosan, merenungi banyak hal. Merindukan masa kejayaan. Yeah hidup selalu seperti bermain wahana roalcoaster. Kadang-kadang bikin mual, serta memacu adrenalin.
Dulu, ketika Sekolah Dasar, saya tidak pernah kehabisan energi sosial. Sebetulnya, saya ini termasuk jenis bocil lenjeh yang gemar ngoceh. Soalnya suka sekali menjadi domas, dan lenggak-lenggok di depan kaca.
Ketika makan, saya selalu punya ritual khusus. Yakni meriview rasa, seperti reporter kuliner di tv-tv.
‘’emm, rasanya seperti rembulan yang tersenyum di matamu, manis. ‘’ kurang lebih begitu. Mungkin dari situlah pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk berkuliah di prodi komunikasi dan penyiaran islam.
Masa-masa Sekolah Dasar menjadi fase kejayaan pertama dalam episode hidup saya, sebab meskipun wajah saya gosong seperti panci Mama, tapi saya kerap aktif ikut berbagai lomba.
Memang, banyak kawan-kawan saya yang cantik, dan lebih akrab dengan guru-guru muda, dan beauty privilage itu nyata. Tapi, karena saya gendut dan busik, jadi saya memilih untuk mempercantik otak saja.
Mama saya pernah bilang, bahwa sebetulnya saya tidak terlahir pintar, hanya saja saya rajin belajar, jadi saya paling tidak selalu masuk tiga besar, ranking di kelas.
Kalimat itu selalu melekat di benak saya, saya jadi berpikir, saya harus berupaya dua kali lebih keras dari pada teman-teman saya, jika ingin mengimbangi prestasi-prestasi mereka.
Kelas empat, saya selalu terpilih untuk ikut berbagai kegiatan, seperti mapsi, popda, lomba macapat, olimpiade sains, LK 2, pesta siaga. Turut berlatih dengan guru untuk memenangkan kompetisi, otomatis mengurangi waktu untuk belajar pelajaran di kelas.
Lagi-lagi, saya berpikir, bahwa saya tidak pintar dari lahir, tapi menang telaten dan ulet saja.
Ketika remaja, saya punya sekolah impian, yakni salah satu SMP Negri paling bergengsi di zamannya. Tapi saya harus bertengkar dengan Mama yang berkeinginan memondokan saya di pesantren kecil yang jauh dari keriuhan kota.
Saya menjadi mengkerdilkan diri sendiri, sebab merasa gengsi dengan rival-rival ranking semasa Sekolah Dasar. Masuk pada sekolah buangan adalah patah hati pertama saya sepanjang perjalanan menempuh cita-cita.
Ketika sekolah menengah pertama, saya menyabet beberapa kesempatan lomba. Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan kawan SD ketika berkompetisi. Dulu dia partner lomba saya, sekarang menghadapi dia, saya minder luar biasa.
Segala latihan panjang yang saya lakukan, lumpuh seketika hanya karena mindset saya, dalam melihat diri sendiri.
Ketika SMP, saya sering ikut lomba, tapi tidak pernah sekalipun memenangkannya. Saya merasa tersesat, membuang-buang waktu, merasa tidak memiliki masa depan.
Mencoba menghibur diri, saya ikut osis. Dua kali mencalonkan diri sebagai ketua osis, dan gagal terpilih. Saya heran sekali dengan sistem di sekolah ini, siswa-siswi kok cenderung lebih memilih ketua yang personal brandingnya nyleneh ya? Daripada yang sesuai aturan.
Ketika debat calon ketua osis, ada satu pertanyaan dari warga sekolah.
‘’Apa yang kamu lakukan pada siswa yang tertidur di kelas?’’ sebuah pertanyaan yang terdengar receh, tidak berbobot, tapi cukup berpengaruh terhadap suara publik.
Saya menjawab pertanyaan tersebut secara visioner, penuh retorika, dan disampaikan secara membara. Sementara lawanku hanya menjawab dengan dua kata sederhana, dan berhasil membuat seluruh audiens tertawa
‘’Lanjut tidur, ‘’ begitu katanya.
Sontak ia mendapatkan tepuk tangan yang meriah dalam durasi yang cukup lama. Saya dibikin terkesima.
Jadi, sebetulnya, menjadi ketua tidak melulu harus punya jiwa pemimpin tapi harus punya skill menjilat keinginan publik ya?
Sejak saat itu, saya menjadi manusia paling ngaret sedunia. Saya tidur di kelas, berangkat terlambat, sering kena takzir, minggat, dan lain-lain.
Tapi, senakal-nakalnya saya, saya masih lah ranking satu. Sebab saya tidak pernah meninggalkan aktivitas membaca ketika saya insomnia.
Yang orang lain tau, saya mendapatkan ilmu laduni dari nabi Khidzir. Orang awam macam saya, mana mungkin dapat keajaiban? Bagi saya, keajaiban adalah nama lain dari kerja keras.
Begitulah, perenungan yang saya dapatkan selama menghilang dari WhatssApp. Selama menjadi mahasiswa, pola hidup saya berantakan. Sering terlambat masuk kelas hanya karena terjebak di angkot yang nge-tem kelamaan.
Dulu, saya selalu merutuki kang angkot yang egois sekali menunggu penumpang berjam-jam, sementara saya harus berkelahi dengan presensi yang menjadi nyawa dalam UTS/UAS mendatang.
Tapi saya memilih berdamai, barangkali, hanya ipk yang saya pertaruhkan di sini, sementara mereka mempertaruhkan stabilitas finansial keluarganya
Akamis saya cheos? Belum KKN, belum sempro, belum munaqosyah, belum kompre, punya segenap mata kuliah kredit, apakah itu berarti saya bodoh karena tertinggal dari kawan-kawan satu angkatan?
Memangnya tujuan kita sama? sampai harus balapan? Mungkin saya tidak bodoh, hanya kurang disiplin saja. Saya tidak mau mengulangi kesalahan yang serupa-seperti ketika saya berhadapan dengan mantan partner lomba-, meremehkan diri sendiri, sehingga termanivest menjadi nyata.
Masih banyak orang-orang yang percaya, bahwa kelak cita-cita saya tak lagi terluka, ia mewujud di depan mata. Mereka percaya pada saya, mengapa saya tidak?
Terkadang, saya mensyukuri jiwa narsis yang menyala ini, paling tidak, saya jadi tidak kepikiran untuk bunuh diri (*)



Komentar
Posting Komentar