Pembaharu Budaya Asmaraloka
Banal
Orang-orang jualan ideologi di pinggir jalan
Berharap uang memungutnya untuk dipamerkan si tuan
Sementara si idealis yang tergilas realis
Hanya menyaksikan sembari menyebrang
Ia tengok kanan kiri
Takut sekali tertabrak, padahal ia hanya perlu berjalan pelan di jalurnya sendiri
Purwokerto, 19 Agustus 2024
Mager
Sudah lelah tertikam sepi
Masih saja punya nyali
Menanyai, makhluk seperti apakah aku ini?
Jelas sekali aku hanya peracik puisi
Anti terhadap bedebah yang gemar basa-basi
Terlihat pendiam namun riuh dari dalam
Terkadang cerewet padahal menuangkan isi kepala yang bisu
Menyimak curhatanmu yang hanya itu-itu
Terlihat mengangguk paham padahal menuli tanpa empati
Berhenti lah mencari manusia di dalam aku
Hanya raga ini saja yang tampak bersahaja
Sedang jiwa telah remuk tak tersisa
Purwokerto, 2024
Ketiadaanmu Adalah Tanggal Merah
Aku tidak pernah benar-benar mencintai straightnews dengan segala liputannya
Kata-kata telah lama raib semenjak demis dari LPM Saka
Segala kalimat perintah terdengar semacam perbudakan tanpa aba-aba
Nalarku hampir hangus dibakar algoritma
Persetan perihal kemaslahatan
Tudung kepentingan telah terbuka semenjak purnama ketiga
Semua manusia hitam putih
Menjadi abu-abu adalah dosa besar bagi pemeluk bianglala
Biarlah kubangun sendiri makna warna itu
Tanpa terdoktrin segala hal yang semu
Semenjak kau tak di sisiku
Aku libur untuk mewujud terhadap identitas yang kucipta tatkala bersamamu
Purwokerto, Agustus 2024
Luka yang Belum diadili Semesta
Di dalam raga yang menua, terdapat trauma yang semakin muda
Lingkungan menjadikan ingatan seperti mendisiplinkan binaragawan
Menekan otot-otot duka dengan cara memaksakan bahagia
Sehingga ingatan atas luka semakin bugar alih-alih pudar
Lihat lah! ini sama sekali tidak efektif
Semacam menutupi jerawat yang masih memerah menggunakan kosmetik
Ia perih tertimpa bedak sehingga menjadi membekas
Ia abadi dalam bopeng
Purwokerto, Agustus 2024
Pembaharu Budaya Asmaraloka
Tubuhku terbiasa tertib menjemput kopi setiap sore pada perjamuan yang penuh suaramu
Sehingga malamnya aku insomnia sambil menatap senyumanmu yang terlukis di atap kosan
Untuk melelapkan rindu, kudengarkan lagu canon n d
Insrumen penghubung antara selera musikmu dan musikku
Sepanjang malam menuju pagi
Kenangan kita senantiasa diperbaharui
Lewat bingkai imaginer kepala yang gemar sekali mengocehkan perihal rencana-rencana kita
Lewat kentongan ronda yang berjaga-jaga menangkap maling warga
Lewat alarm kegiatan yang menggema dari SPN Purwokerto ketika subuh tiba
Purwokerto, 19 Agustus 2024



Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus