Lelaki Luhur

 


Kepada seseorang yang mengingatkanku akan Sura, yang dibunuh karakternya pada peristiwa duaribu dua puluh dua

Aku menemukanmu, di jendela netra yang penuh sejuta tanya, sebuah tatapan yang dikelilingi rumusan masalah duduk perkara manusia dewasa

Apa makna cinta menurutmu? kataku, dan kau bilang, cinta adalah tanggung jawab

Malam mulai diabaikan waktu, di luar dingin tapi jawabanmu membuat hatiku menghangat

Sekre cabang pergerakan begadang, seperti beronda untuk menyaksikan diriku yang mematung, sebab memergokimu yang mencuri perhatianku

Hatiku lemah pada kewibawaan manusia

Purwokerto tertawa, sebab lagi-lagi menjadi tempat dilabuhkannya lenong asmara yang diparodikan perempuan penuh luka lama

Aku mencoba pertautkan kembali, potongan demi potongan peristiwa, yang selalu merubah genre skenario film berjudul ‘’aku’’ 

Dari romance menjadi horor, lalu menjelma religi, lalu bermetamorfosis menjadi action, lantas fantasi, kemudian petualangan, terus thriller, hingga menjadi sejarah ‘aku dengan segala ke aku-anku’

Aku menimang-nimang, sekiranya, menjadi siapakah tokoh ‘’kau’’ dalam tulisan Tuhan itu

Sudikah kiranya kau hanya kumaknai sebagai peran pengganti yang memulihkan trauma? 

Atau sebagai peran pendukung yang berpengaruh terhadap perkembangan karakter tokoh utama?

Oh tentu tidak noona, katamu, aku punya filmku sendiri

Oh jadi hadirku hanya sebatas pemeriah saja dalam ceritamu? tanyaku

Entah lah, aku tak punya wewenang untuk mendeklarasikan itu, sahutmu. 


Purwokerto, 16 Desember 2024


Komentar

Postingan Populer