Memori Tentang Pantai Sawangan Kebumen



Kenapa ya? Rencana mau jalan-jalan ke suatu tempat itu lebih efektif kalau dadakan daripada yang sekadar wacana dan diperbincangkan jauh hari penuh list persiapan?  Seperti malam hari pada tanggal 1 Agustus 2024; Aku, Yogi, dan Nida mengopi di Copi Langitan.

Gabut saja, sambil tipis-tipis bawa laptop dan setumpuk kertas proposal skripsi mentah yang tak kunjung diajukan ke fakultas sebab terlalu dilema bolak-balik ganti judul, juga mengobrol soal berbagai duduk perkara semester tua.

Entah siapa yang pertama kali nyeplos soal pengin ke pantai, tiba-tiba mood kami bertiga seperti benda yang dilumuri bensin dan tersulut puntung rokok, besoknya kami kebelet on the way ke sana. 


Kebetulan sekali, pada tanggal 2 Agustus 2024, seorang kawan yang sedang berkuliah di Undip Semarang berencana ingin pulang, lantas transit di Purwokerto sehingga ia mengajak untuk main. Ini momentum langka, sebab kami jarang sekali bertegur sapa sejak lebaran. Ketemu pun sekadar menyampaikan minal aidzin secara singkat sebab keterbatasan waktu dan situasi yang tak menentu. 

Aku tak mungkin membatalkan rencanaku semalam, akhirnya berinisiatif mengajak Tifa- kawanku yang dari Undip- untuk turut ikut serta bertamasya ke pantai. Ia tak menolak. Singkat kata, kami berangkat sehabis duhur.

Tujuan pertama yang kita tempuh adalah ke Sumpiuh untuk menjemput Gita. Setelah berpamitan dengan Ibu Gita, kami melanjutkan ke pom bensin sekalian numpang sholat ashar.

Jika sedang dalam situasi semacam ini, aku jadi teringat dengan Hana, seorang tokoh yang diciptakan Asma Nadia dalam novelnya yang berjuddul ‘’Jilbab Traveler’’ . Juga terlintas Hanum Salsabiela Rais yang mengabadikan perjalanan liputannya menjadi sebuah buku.

Terkadang aku ingin seperti Gol A Gong yang lihai dalam menuliskan perjalanan, menjadi  traveler writer's sepertinya menyenangkan. Barangkali aku bisa memulai dari hal kecil semacam ini. 

Jalur Turun dan Naik yang tak Mudah




    Kukira, sesampainya di lokasi, aku akan disuguhkan oleh hamparan pasir yang luas, dengan sepoi angin, dan udara yang sejuk. Nyatanya belum, kami berhenti di tempat parkir yang dikelilingi beberapa penjual makanan.

Penjaga parkir menghimbau agar kami segera turun sebab sebentar lagi maghrib, kami juga diinstruksikan untuk membeli makanan di sini, sebab di bawah sudah tidak ada lagi yang menjualnya. 

Aku melihat-lihat, sekiranya makanan apa yang sesuai dengan seleraku detik itu juga, aku menghindari mie, sebab sarapan pagi tadi sudah mengkonsumsi mie instan. Pada akhirnya aku memilih pecel. Kawan-kawanku yang lain membeli mie cup, ternyata harga mie dan pecel sama saja. 

Kami turun tanpa melirik jam, menusuri tangga yang terbuat dari tanah. Yogi mengatakan, terakhir kali dia ke sini jalannya tidak begini, ini sudah lebih baik dari sebelumnya, sudah selangkah lebih terawat. 

Aku dibikin takjub pada belokan tangga yang menunjukan pemandangan samudra kehijauan, dari atas sini kami bisa melihat seberapa cantik deburan ombak sore itu.



Sesampainya di bawah aku duduk di bebatuan tepi pantai, bersama Tifa yang duduk tak jauh dari situ. Sementara Yogi, Nida, dan Gita berburu panorama senja. Berswafoto ria di bebatuan yang lebih dekat dengan riak air. 

Aku dan Tifa memilih menikmati makanan sambil mengobrol, sebab melewati bebatuan besar-besar yang tak rata, butuh effort lebih. Tifa punya riwayat tiroid yang memungkinkan ia memilih menghemat energi untuk nanti naik lagi. 

Pembelajaran yang bisa dipetik sejauh ini adalah, kelak ketika aku ke Pantai Sawangan lagi, aku ingin ke sini sejak pagi, atau paling tidak, harus sampai di lokasi parkir sekitar habis duhur, sehingga bisa berlama-lama menikmati waktu duduk di nyiur pantai sembari berburu sunset yang tenggelam di samudra. 

Ketika maghrib tiba, kami segera beranjak naik, dengan Tifa yang hampir kehabisan tenaga. Untung saja penjaga pantai menemani kami dari belakang. Sebab kami adalah pengunjung terakhir yang naik. Sudah tidak ada lagi manusia di bawah. 

Entah bagaimana medan ke atas seperti selangkah lebih panjang, Tifa dan aku kerap istirahat melangkah untuk mendiamkan kaki yang gemetar. Sehingga kami tak sempat sholat maghrib. Ini betul-betul hal inisidental yang tidak kami duga. 

Kami kira mudah untuk menemukan mushola, sampai akhirnya hujan, dan kami memutuskan untuk meneduh. Jalan yang licin cukup membuat kami khawatir pada Tifa, ia tremor, raganya seperti sudah mencapai batas bergerak. 

Penjaga pantai dengan sigap bergegas ke jalur darurat. Entah bagaimana mereka naik, aku tidak ingat persisnya sebab pusat perhatianku terpusat pada kepanikan soal kesehatan Tifa. Aku merasa bersalah sebab mengajaknya tanpa riset medan dan persiapan matang.

Penjaga pantai datang membawa teh manis dan minyak kayu putih. Menyarankan kami untuk tidak terburu-buru naik sampai kondisi Tifa membaik. Tifa menolak, sebab ia merasa tidak ingin menjadi beban kami. Meskipun sebetulnya kami tidak merasa dia adalah beban. 





Kami mendapatkan beberapa informasi dari penjaga pantai bahwa Pantai Sawangan ketika covid memang sempat tutup total, dan tak terawat sama sekali. Dulu pantai ini memang dibuka secara gratis, tidak dikelola secara resmi oleh lembaga tertentu. 

‘’Baru diresmikan kembali ketika sekitar tidak jauh dari momen idul fitri kemarin;’’ ujar penjaga pantai.

Untuk mengalihkan penat setelah menghadapi peristiwa yang di luar rencana, Aku dan Tifa mengobrol soal kenangan kami ketika TK sampai SD. Mengenang bagaimana kami dulu gemar sekali ikut lomba-lomba, sampai jatuh hati dengan orang yang sama. 

Komentar

Postingan Populer