Gembok Kepercayaan
Gembok Kepercayaan
Bukan hatiku tiada berpintu
Gembok kepercayaan saja yang menghilang
Bukan tiada debaran rindu
Harapku saja yang melayang
Sudahlah prinsip tak punya titik temu
Matamu melirik pada wajah baru
Welas asihku yatim piatu
Cintamu telah sekarat dahulu
Oh kekasih
Aku tak ingin menua bersama bedebah gila
Sudah mimpiku semenjulang gapura
Tekadku yang kokoh hampir roboh pula
Sebab perkara patah asmara
Perahu Kertas
Dalam senyummu
Samudra ketenangan menggenang
Aku memungut perahu kertas
Yang merindukan ombak biru
Yang duplikatnya
Telah berlayar ke pelabuhan baru
Derai air matamu
Mandi swarga
Kelopakmu seperti suaka marga satwa
Izinkan aku bertualang di dalamnya
Pada alismu
Tumbuh akar teratai
Aku berkedip untuk melambai
Entah episode hidup mana yang membawaku sampai
Urusan bahagia yang belum selesai
Kuanggap utang yang tercerai berai
Muncak
Kita mendaki bukit pencapaianmu
Meski nyala redup tak selamanya cemerlang
Orang hanya tau kita selalu sentosa
Menggugat cepat padahal jalan berliku
Padahal Pengeran menciptakan keterlambatan untuk sebuah keselamatan
Kita bahkan tak sempat menikmati kunang-kunang
Atau pepohonan rindang
Jangkrik-jangkrik ketika maghrib tiba
Kicau burung ketika mentari menyapa
Perjalanan yang singkat ini sesungguhnya mencari apa?
Orang hanya mau tau potret estetik yang tak seberapa
Dibanding nyawamu yang nyaris berguguran ditempa cuaca
Atau mentalmu yang tumbang seperti pohon kelapa
Kesaksian
Zeus, duta lara di penghujung purnama
Aku bersaksi pada mercon-mercon yang menggema
Bahwa masa lalu adalah pembelajaran berharga
Dan aku bersaksi bahwa dusta adalah titisan nista
Maka pada duaribu duapuluh lima
Aku ingin berdamai denganmu secara paripurna
Mari tidak bertemu di belahan bumi mana pun
Aku berlindung kepada daun-daun
Demi mendengar nyanyian kumbang mengalun
Sebab di dalam hijau
Memori pertama kami berkilau
Masa Jaya
Badai harap bergulung
Pada jiwa sepuh yang kian limbung
Ia merasa muda tapi raga tak tak sanggup bekerja sama
Pada sejuta cita yang melambung
Metanya berbinar, kakinya terhuyung
Lama-lama ia tersandung serangga yang telah kehilangan sukma
Pada bangkai tak bernyawa itu, ia merasakan duduk di hamparan duka
Merasa pilu sepanjang masa
Dirinya tenggelam dalam kemelut nestapa
Ia merindukan cahaya kekuningan senja
Sebab semesta di hadapannya terlanjur gelap gulita
Ia rindu pada wajah jelitanya yang tersipu di pantulan kaca
Ia pernah jatuh cinta pada dirinya sendiri berkali-kali
Ia pernah menyaksikan segenap pangeran menawan mengantri
Berlutut dengan sekotak cincin mengkilap dengan segenggam harap
Sesaat, ia melirik kereta kencana yang ditarik kuda gagah sehitam jelaga
Pada penduduk dunia ia mulai unjuk jumawa
Siapa sangka euforia manusia bisa bersifat sementara?
Purwokerto, 05 Januari 2025



Komentar
Posting Komentar